Posted in Cooking

Membuat Kimchi

Hello Everyone!

Fyuuh, akhirnya posting tulisan juga setelah bertahun tahun! hahahaha. Semoga gak berenti di tulisan ini (Aamiin). Enjoy!

Yuhuuu… I would like to share to you about pengalaman gue bikin kimchi. Well… tiga kali bikin kimchi dengan berbagai resep yang dimodifikasi dari berbagai sumber sesuai dengan ketersediaan bahan yang menghasilkan tiga varian rasa kimchi yang beda beda pastinya, hahha (cross finger).

Resep yang pertama,

Setengah kilo sawi putih dicuci bersih trus dibaluri garam secukupnya (bagian batang baluri lebih banyak garam). Sawinya boleh cuma dibelah jadi dua atau dipisah-pisah per lembar (it is totally up to you). Setelah itu didiamkan selama 5 jam trus dicuci bersih di air yang mengalir, tiriskan.

untuk bumbunya siapin:

  1. Bubuk cabe 3 sendok makan, well… karna bubuk cabe korea buat gue gak affordable jadi gue ganti pake cabe bubuk lokal yang gue beli di pasar.
  2. Bawang putih 3 siung
  3. Jahe satu ruas jari
  4. Kecap Ikan 2 sendok makan

Haluskan semua bumbunya trus dicampur, tambahkan air secukupnya sampai teksturnya kayak pasta, abis itu balurin ke semua sawinya. sawi yang sudah dibalurin bumbu dimasukin ke toples (wadah apa aja yang tertutup rapat), diteken teken sampe gak ada gelembung – gelembung udaranya, tutup rapat trus diamkan di suhu ruang. Karena suhu di Indonesia ini hangat (read : panas), gue saranin dieminnya satu hari aja, semakin lama akan semakin asem kimchi-nya. Jangan lupa buat buka tutup wadahnya berkala buat ngebiarin udara hasil fermentasinya keluar. Setelah didiamkan bisa langsung dimakan :), supaya tahan lama disimpan di kulkas ūüôā

Hasil :

Resep diatas ini hasilnya enak banget, minusnyaaaa… pedes banget! hahaha, karna cabe korea nya diganti cabe lokal, jadi ya gitu deh.

Percobaan ke dua :

Overall resepnya sama, cuma bedanya kali ini cabe bubuknya cuma 1 sendok dan ditambah larutan terigu yang direbus untuk pengental, hasilnya biasa aja dan rasanya kurang,

Percobaan ke tiga :

Kali ini cabe bubuknya di tambah jadi dua sendok, tapi ternyata hasilnya kurang memuaskan juga karena sawinya ditambaj jado 1 kilo tapi gak dibarengin dengan penambahan bumbu, jadi rasanya ya plain (Yaiyalah… hahaha)

Well that’s it! Hope you can learn from my experience (read : mistakes) and make a good kimchi.

Thanks for reading!

Posted in Uncategorized

PANGUMBAHAN SEA TURTLE PARK

(28/4) Sabtu sore sekitar pukul 3 saya dan tiga teman saya (Suci, Yusfi, dan Dimas) tiba di Ujung Genteng Sukabumi. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tujuh jam mengendarai sepeda motor akhirnya kami sampai di tujuan. Semua rasa lelah seolah terbayar saat saya melihat laut biru yang terbentang luas  sepanjang mata memandang. Kami beruntung karena laut sedang surut sehingga ombak tidak terlalu besar dan garis pantai yang jauh ke laut. Satu bulan yang lalu saat tim survey pertama mendatangi tempat ini laut sedang pasang, sehingga tidak memungkinkan untuk terlalu dekat dengan garis pantai.

Setelah beberapa saat menikmati keindahan pantai kami lalu segera menuju ke tempat tujuan utama kami yaitu Pangumbahan sea turtle park yang ada di pantai sebelah barat Ujung Genteng. Saat tiba di lokasi kami disambut dengan ramah oleh para pegawai yang bekerja di tempat penangkaran penyu tersebut. Setelah beristirahat cukup lama sambil menanyakan beberapa informasi yang kami butuhkan kami lalu diajak untuk melihat penyu yang ada di penangkaran. Di tempat tersebut terdapat 2 penyu sisik (Eretmochelys imbricata)  yang didatangkan dari lokasi penangkaran yang lain. Selain itu terdapat beberapa penyu muda dan 2 penyu albino. Penyu albino ini sangat jarang ditemukan dan sangat unik dengan seluruh tubuh yang berwarna putih dengan corak yang sama dengan penyu umumnya.

Setelah puas melihat penyu kami diajak ke ruangan tukik tempat menampung sementara bayi-bayi penyu. Tukik tukik ini berumur kurang dari 24 jam setelah menetas di tempat penetasan buatan yang disiapkan oleh petugas. Telur-telur penyu membutuhkan waktu sekitar 50-70 hari, tukik tersebut harus segera dilapaskan ke laut segera setelah menetas. Waktu pelepasan yang dipilih oleh petugas adalah di sore hari sekitar pukul setengah enam. Waktu tersebut dipilih karena suhu yang tidak panas dan predator   tidak terlalu aktif di malam hari. Tukik yang akan dilepas kali ini berjumlah sekitar 200 ekor yang biasanya selalu disaksikan oleh banyak pengunjung kawasan ini. Proses pelepasan penyu yang dilaksanakan rutin setiap hari ini menjadi daya tarik tambahan untuk menarik wisatawan baik lokal maupun asing. Jika beruntung, pengunjung dapat ikut melepaskan tukik, tapi biasanya tidak semua pengunjung mendapat kesempatan karena resiko yang cukup besar. Tukik yang akan dilepaskan tidak boleh terlalu lama dipegang dan akan sangat berbahaya jika tukik tersebut terjatuh.

Malam hari kami menginap di mess yang biasanya digunakan oleh mahasiswa yang melakukan penelitian atau praktek lapang. Sebelum tidur kami melihat tukik tukik yang kebetulan baru saja menetas dan kami diberi kesempatan untuk ikut memindahkan tukik yang baru menetas ke ruangan tukik bersama dengan Pak Dadan yang bertugas pada malam itu dan setelah itu kami tidur. Malam itu kami tidak dibangunkan yang berarti tidak ada penyu yang bertelur di pantai. Pagi sekitar pukul 04.30 saya dan yusfi menuju pantai untuk melihat sunrise, agak kecewa karena tidak ada kabar penyu yang bertelur. Tapi setelah sampai di pantai ternyata Pak Anank yang berjaga di pos 3 menghampiri kami dan memberi tahu bahwa baru saja ada penyu yag bertelur di sekitar pos 3. Setelah mendengar berita tersebut kami langsung menuju ke lokasi tempat penyu bertelur. Akhirnya saya tiba di lokasi dan bisa melihat penyu yang sedang menutup sarang tempatnya bertelur. Setengah jam berikutnya penutupan sarang selesai, penyu kembali ke laut, dan pagi menjelang.

Pagi hari kami bersiap-siap untuk melihat lokasi yang rencananya akan digunakan sebagai lokasi pelatihan pengambilan sampel diantar oleh Pak Arif. Lokasi ada di sebelah timur batas kawasan penangkaran. Lokasi ini dipilih karena ombak yang tidak terlalu besar dan biota laut yang cukup banyak ditemukan di lokasi ini. Setelah berpamitan untuk pulang, kami mampir ke lokasi yang lebih ke timur yang  dangkal dan berbasah-basahan ria dan menikmati keindahan pantai lebih lama lagi. Keterbatasan waktu membuat kami harus beranjak meninggalkan pantai dan bersiap pulang.